Penggerak Ekonomi Desa yang Inklusif

Indonesia memasuki periode bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncak pada 2020 – 2030. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,77 juta jiwa pada 2022. Dari jumlah tersebut, sebanyak 190,98 juta jiwa (69,25%) masuk kategori usia produktif (usia 15-64 tahun); sedangkan 84,8 juta jiwa (30,75%) tergolong usia tidak produktif. Hal ini menjadi kekuatan untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 khususnya kaum muda yang akan menjadi “penggerak” pembangunan ekonomi inklusif mulai tingkat nasional, daerah hingga desa.

Pada 2022, Badan Pusat Statistik mencatat jumlah desa/kelurahan di Indonesia mencapai 83.794 desa/kelurahan. Pembangunan yang di mulai dari bawah ke atas (bottom – up) mampu memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi sejak dimulainya perencanaan dengan asumsi masyarakat mengetahui kebutuhan dan cara terbaik mengatasi masalah sesuai kondisi wilayahnya. 

Proses pembangunan desa dalam praktiknya membutuhkan orang – orang “penggerak” sebagai pemantik masyarakat desa untuk ikut bergerak dan bekerjasama membangun desa. Salah satu kelompok masyarakat yang diharapkan mengambil peran sebagai “penggerak” adalah kaum muda..

Pemikiran kritis dan kritik diiringi solusi yang kreatif dan inovatif akan mewarnai perjuangan kaum muda dalam memajukan pereknomian desa dan memastikan kebermafaatannya dirasakan seluruh lapisan masyarakat terutama kelompok marjinal. 

Kewirausahaan sosial untuk menumbuhkan ekonomi desa inklusif

Generasi muda dengan kepekaan terhadap berbagai permasalahan sosial akan lebih mudah tergerak menghadirkan inovasi sosial sebagai salah satu solusi praktis yang dapat dilakukan dengan dukungan teknologi informasi digital. Pola pikir generasi muda saat ini yang semakin kritis menjadi modal intelektual mereka untuk lebih bersemangat memberikan manfaat sosial yang nyata bagi lingkungan sekitar. Mereka berusaha memadukan antara inovasi sosial dengan kearifan lokal yang ada. Bisnis sebaiknya memiliki nilai dan bermanfaat. Hal ini bisa dicapai melalui kegiatan bisnis yang dilakukan dengan menerapkan konsep kewirausahaan sosial. 

Kewirausahaan sosial memiliki tujuan yang eksplisit berdasarkan pada sebuah gerakan yang didorong oleh semangat untuk menolong orang lain dan membuat perubahan untuk kebaikan bagi masyarakat. Wirausaha sosial adalah mereka yang memiliki pengetahuan modal (Sumber Daya Manusia), modal sosial, dan keterampilan sosial, yang mengubah masalah sosial menjadi inovasi sosial.  

Kaum muda dapat menjadi penggerak ekonomi desa dengan mengembangkan bisnis yang menerapkan nilai triple bottom line (people, planet dan profit) sehingga menciptakan peluang kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi angka pengangguran di desa. Dengan keunggulan kaum muda yaitu gagasan, kreatifitas dan inovasi disertai penguasaan teknologi dalam memanfaatkan sumber daya alam akan menciptakan produk lokal yang berdaya saing di pasar sembari menjaga kelestarian sumber daya alam. 

Model usaha sosial yang dikembangkan dengan pendekatan triple bottom line (people, planet dan profit).  People adalah pemberdayaan masyarakat dengan menintegrasikan kelompok marjinal dalam rantai nilai usaha. Planet adalah keberlanjutan lingkungan dengan menerapkan teknologi produksi yang rendah karbon dan penggunaan kemasan ramah lingkungan. Profit adalah pendapatan usaha yang di hasilkan untuk menjaga keberlanjutan usaha sehingga terus memberikan dampak positif. 

Menjadikan kaum muda sebagai promotor penggerak perekonomian desa melalui usaha sosial menjadi upaya untuk mengakselerasi petumbuhan ekonomi desa inklusif. Perlunya kesadaran pemangku kepentingan dan kerjasama guna menumbuhkan usaha sosial. Pada akhirnya, mewujudkan ekonomi desa inklusif, tangguh dan mandiri.

Oleh : Dedy Wahyu Rizaldy

Referensi

Kompas.com, Wirausaha Sosial, Inovasi, dan Gerakan Masyarakat Sipil Berbasis Komunitas. Wirausaha Sosial, Inovasi, dan Gerakan Masyarakat Sipil Berbasis Komunitas Halaman all – Kompas.com.  


Puspitasari, D. C. (2019, September). Kewirausahaan Sosial: Dalam Konsep Dan Terapan. Diskusi Umum. Yogyakarta, Indonesia.

bunghatta.ac.id, Cara Membangun Jiwa Kewirausahaan Di Masyarakat. https://ekonomi.bunghatta.ac.id/index.php/en/article/506-cara-membangun-jiwa-kewirausahaan-di-masyarakat.

Komunitas