Pentingnya penggunaan “Social Media” dalam kerja-kerja kampanye dan advokasi

Sosial media adalah akun jejaring sosial atau social network yang sudah menjadi bagian keseharian dalam kehidupan kita sekarang ini, dan nampaknya akan terus menjadi ruang bagi kita untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Peran sosial media tidak dapat dilepaskan dari perkembangan komunikasi dan teknologi yang terus berkembang pesat dan maju. Dalam sebuah lokalatih yang diselenggarakan oleh Program Representasi (Prorep) pada tanggal 12-14 Februari 2013 di Ambarrukmo, Jogjakarta, menghadirkan suatu kesimpulan betapa pentingnya penggunaan sosal media dalam aktivitas dan kerja-kerja kampanye maupun advokasi. Lokalatih ini menghadirkan Bukik Setiawan sebagai fasilitator yang mengajarkan para peserta untuk terlebih dahulu mengenal dan memiliki akun jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog dan youtube.

 Pentingnya jejaring Facebook dan Twitter
Ternyata, diantara peserta sebagian besar sudah familiar dalam menggunakan facebook dan twitter, namun tetap masih ada beberapa yang belum memiliki akun jejaring sosial twitter. Hampir semua peserta ternyata lebih banyak yang menggunakan facebook dibandingkan dengan twitter, dikarenakan menggunakan facebook dianggap lebih mudah dan memiliki banyak fasilitas.

Ketika kita ingin mengarahkan penggunaan sosial media untuk kerja-kerja kampanye dan advokasi, yang perlu diperhatikan adalah; bahwa ketika kita melakukan kampanye di jejaring sosial tersebut, isu yang kita angkat haruslah fokus, detail atau spesifik pada satu hal. Bila kita mau berkampanye di twitter, maka diperlukan kemampuan mengefektifkan kata dan kalimat dalam status yang hanya terdiri dari 120 kata. Namun demikian, twitter yang merupakan jejaring informasi, mampu meluaskan kampanye lebih masif ketimbang di facebook. Bukan berarti facebook tidak maksimal, hanya saja ada keterbatasan jejaring teman di facebook yang maksimal 5000 teman. Inilah salah satu yang berbeda dengan penggunaan twitter. Bila kita melakukan kampanye secara rutin dan terpola dengan baik di sosial media tersebut, maka kemungkinan besarnya kita akan dapat memaksimalkan kampanye, promosi, propaganda maupun iklan yang kita sajikan di sosial media ini.

Bukan berarti selalu berhasil, diantaranya ada juga berbagai gerakan yang seringkali gagal dalam aspek membangun persepsi dan saling percaya di jejaring sosial dan media sosial. Maka dibutuhkan untuk terlebih dahulu membangun akun kita agar reputable dan konsistens dalam mengusung isu dan topik yang kita angkat sesuai dengan visi misi yang kita selipkan dalam informasi akun kita. Masifnya kampanye yang kita lakukan dalam akun twitter atau sosial media, seringkali bukan karena berasal dari lembaga-lembaga advokasi, tapi bisa muncul dari orang-orang yang tidak terduga, diantaranya adalah datang dari pengaruh kaum selebriti. Dari hasil analisis aplikasi pihak ketiga yang mendukung jajring sosial twitter, dapat kita ketahui akun twitter Jupe (Juali Perez) adalah akun yang paling berkontribusi memasifkan kampanye #savekpk. Artinya, bahwa seringkali perluasan kampanye kita di jejaring sosial menjadi masif berkat kontribusi dari para akun selebriti atau akun yang memiliki jumlah teman atau pengikut yang banyak. Dalam berkampanye di jejaring sosial, kita sangat membutuhkan mereka sebagai influencer untuk mendukung setiap isu dan kampanye yang kita angkat, apalagi ketika isu-isu tersebut bermuatan nilai-nilai humanisme atau menyangkut kepentingan umum dan publik.

Blog dan Youtube: jejaring untuk berbagi tulisan dan video
Selain memberikan pesan status di jejaring sosial, kita juga dapat berbagai materi tulisan yang lebih mendalam melalui blog, dimana kita bisa menuliskan berbagai opini, gagasan dan cerita. Selain itu materi video dan film juga dapat kita bagikan dan unggah melalui akun jejaring video, salah satunya yang terpopuler adalah melalui youtube. Ada banyak aktivitas lembaga kita yang sebenarnya dapat kita share dalam bentuk rekaman video maupun film. Tentunya materi video an film tersebut harus dikemas atau diedit secara menarik dan dengan durasi yang tidak terlalu lama, yang ideal adalah antara 1-3 menit saja.

Adapun link atau tautan situs video maupun blog tersebut dapat juga kita hubungkan dengan status di facebook dan twitter yang kita miliki. Jika menarik, pastinya akan ada banyak orang yang akan tertarik untuk melihatnya. Maka adalah syarat penting untuk membuat video dan film yang menarik dengan waktu yang singkat saja. Bila durasi waktu video atau film tersebut panjang, selain bisa membosankan, dapat juga memakan bandwidth yang panjang. Hal ini berpotensi mengganggu koneksi internet.

Sebenarnya setiap orang adalah media atau dapat menjadi media. Maka kita perlu menciptakan suasana agar orang lain mau mencari tahu tentang apa yang kita tawarkan di jejaring sosial. Sosial media dan berbagai situs jejaring sosial ini memiliki kelebihan, yakni jaringan yang tidak terstruktur, namun jaringan ini malah lebih dapat bertahan. Semakin terstruktur jaringan, semakin mudah untuk diputus atau dirusak. Inilah gambaran dari keberadaan jejaring sosial yang merupakan jaringan tidak terstruktur tapi dapat mempengaruhi perkembangan gerakan sosial dan informasi. Adapun tugas kampanye atau penyadaran adalah berat, dan hal ini tidak dapat dilakukan hanya sekali-sekali saja. Harus ada kontinuitas kampanye untuk melakukan gerakan penyadaran, sehingga orang lain dapat mulai menyadari gagasan-gagasan dan kampanye yang kita lakukan.

Pelatihan ini telah memberikan masukan-masukan penting bagi peserta, yang melihat bahwa ternyata sosial media dapat digunakan untuk memaksimalkan kerja-kerja kampanye dan advokasi lembaga kita, namun pengelolaannya harus secara serius dan tidak setengah-setengah. Jejaring sosial dan media sosial akan menjadi masa depan komunikasi dan kampanye kita kedepan, dimana kita dapat membangun gerakan sosial dan bersuara yang sama, meskipun tanpa saling mengenal langsung. (Maeda Yopie, Koordinator Program kesadaran Kritis ASPPUK)

SHARE