Womens Work Matters, Suara Perempuan Menghadapi Perubahan Iklim

Masalah lingkungan yang kita hadapi dari tahun ke tahun semakin meningkat baik yang berasal dari pencemaran air maupun pencemaran udara. Perubahan iklim yang terjadi di indonesia juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masa depan masyarakat, terutama para perempuan yang harus menjamin kesehatan anggota keluarga terutama anak-anaknya.

Dalam rangka memperingati hari wanita sedunia 2024, OXFAM mengadakan perayaan Hari Perempuan Internasional 2024, yang mengambil tema ‘Women’s Work Matters’. Acara ini berisi sesi bincang-bincang, workshop dengan Setali dan juga pameran foto.
Pada sesi ke 1 jam 10.00 -12.00 “ Work Gendered Dimension of Climate Adaptation and Mitigation” dibuka pemaparan dengan tema ‘Peran Perempuan dalam Ketahanan Terhadap Upaya Perubahan Iklim’ oleh Ibu Eko Novi , Asisten Deputi PUG Sosial Budaya KemenPPPA RI.” Kesenjangan tenaga kerja perempuan masih besar, bahkan tenaga profesional perempuan di Indonesia pun hanya mencapai angka 49% saat ini”, padahal pemberdayaan perempuan sangat berdampak sekali terhadap perkembangan sektor ekonomi maupun lingkungan. Ibu Novi menambahkan bahwa KemenPPPA banyak melakukan kerjasama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK ) dalam bidang Pelatihan dan pembinaan untuk pemberdayaan perempuan di beberapa daerah di Indonesia.


Setelah pemaparan dari Ibu Novi tentang upaya KemenPPPA untuk pemberdayaan perempuan, dilanjutkan dengan cerita dari Ibu Widia Ullu (Ketua Jaringan Perempuan Usaha Kecil Kupang, NTT) yang membuat usaha bengkel daur ulang tas dan sepatu, modifikasi kain tenun dengan memperkerjakan ibu-ibu tetangga sekitar yang tidak memiliki ketrampilan/usaha dan membuat komunitas usaha dengan memberikan pelatihan gratis sampai mereka bisa menghasilkan uang tanpa bergantung pada orang lain. Dengan memanfaatkan sisa kain tenun dari pembuatan baju untuk produk lain bisa mengurangi sampah fashion dengan meningkatkan nilai fashion itu sendiri. Ibu Widia pun merasakan dampak dari perubahan iklim dari usaha yang digeluti bersama komunitasnya, dimana iklim di Kupang NTT, setiap hari dari jam 12.00 – 14.00 siang panasnya sangat terik sehingga para penenun tidak bisa menenun, dan jika hujan, hujan badai dan hal ini sangat mengganggu produktivitas usaha yang dihasilkan. Maka dari itu ibu Widia dan para perempuan komunitasnya berusaha untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan lainnya untuk masalah perubahan iklim.

Upaya lain dari yang dilakukan oleh Ibu Widia selain usaha daur ulang juga menggerakkan para perempuan di komunitasnya untuk menanam pangan lokal di rumahnya masing-masing dalam menghadapi perubahan Iklim, walaupun air sudah banyak tercemar polusi, ibu widia pun tidak kehilangan solusi dengan menyimpan air di tangki untuk menyiram tanaman. Menurut ibu Widia solusi dalam menghadapi perubahan iklim “perubahan iklim tidak membuat kita terlempar, perempuan harus kuat , kreatif, terampil, dan jangan berpatokan pada satu hal tapi carilah pengalaman/skills baru untuk bertahan hidup”


Cerita lain dari Maria Mone Soge atau disapa dengan Kak Cindy dari Desa Hewa, Flores Timur tentang dampak dari perubahan iklim yaitu dari 17 (tujuh belas) sumber mata air di desa hewa, hanya 2 (dua) sumber mata air yang belum kering sehingga terjadi perebutan bahkan bermusuhan karena masalah air yang kering, penurunan produktivitas pangan. Menurut kak Cindy, perempuan dan lingkungan sperti 2 (dua) koin yang saling berkaitan, dan di desanya kebanyakan perempuan lebih banyak bekerja dalam sektor pertanian dan peternakan. Yang dilakukan oleh kak Cindy untuk masalah perubahan iklim adalah mengedukasi para perempuan dan generasi muda di desa hewa untuk memanfaatkan keberagaman pangan lokal lainnya ketika sektor tani gagal panen karena minimnya air. Dengan menanam Jagung, ubi, singkong yang mudah ditanam dan tidak membutuhkan banyak air serta tahan terhadap kondisi perubahan iklim yang tidak menentu menjadi solusi pangan bagi warga di desa hewa, flores timur. Dengan mengedukasi para generasi muda untuk mencintai pangan lokal yang ada ketimbang pangan instan maka kak cindy dan para perempuan lainnya mengolah pangan lokal yang ada dengan aneka olahan dengan citra rasa yang tidak kalah enaknya dengan pangan instan. Menurut kak Cindy “Perempuan adalah produsen makanan di rumahnya masing-masing dan memastikan kesiapan makanan untuk anggota keluarganya yang akan tahan banting pada masalah perubahan iklim”.


Pembicara lainnya yaitu ibu Nani Afrida dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Anggota AJI ada 1800 jurnalis dan yang bergender perempuan hanya 20%. Profesi jurnalis masih menjadi profesi yang maskulin dan masih minim perempuan yang mau menekuni profesi jurnalis, karena masih banyak jurnalis perempuan yang hamil yang ditugaskan oleh kantor media untuk meliput demo, bencana banjir, serta pulang malam.


Menurut ibu Nani, “seharusnya media lebih banyak menyuarakan isu lingkungan dan memberitakan cerita-cerita hebat para perempuan untuk komunitas sekitar seperti yang sudah dilakukan oleh Ibu Widia dan kak Cindy, tetapi sayangnya media yang ada saat ini lebih tertarik menerima berita sensasional seperti korban pemerkosaan perempuan, pelecehan seksual dan bukan pemberitaan positif tentang perempuan, padahal perempuan memiliki pengaruh besar pada lingkungan dan ekonomi keluarganya”.


Kemudian dilanjutkan oleh ibu Eko Novi sebagai penutup acara sesi 1 talkshow bahwa sebenernya perempuan dan laki-laki memiliki tugas dan kewajiban yang sama. Perempuan bisa melakukan semua pekerjaan laki-laki tapi laki-laki tidak bisa melakukan semua pekerjaan yang dilakukan perempuan. Untuk bisa merubah budaya patriarki bahwa laki-laki lebih tinggi dari perempuan adalah dengan berkomunikasi secara perlahan dengan pasangan untuk kerjasama antara tugas dan kewajiban yang sama tanpa merasa ada yang tidak dihormati.
Kegiatan setelah itu dari jam 13.00 – 15.30 diisi oleh Setali indonesia bagaimana membuat tali di tumbler dengan menggunakan tali hasil olahan limbah fashion yang diikuti oleh 20 peserta.


Setelah acara pelatihan dari Setali dilanjutkan talkshow ke-2 jam 15.30 – 17.30 oleh Ibu Dati Fatimah dari Yogyakarta tentang “Transformasi Gender dalam Rantai Nilai di sektor Sawit dan Perikanan” bahwa pekerja perempuan masih memegang peranan penting dalam menghasilkan produk di sektor sawit dan perikanan.


Dilanjutkan pemaparan dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) tentang “Bagaimana Tantangan dan Peluang untuk mendorong aspek gender dalam strategi nasional bisnis dan Hak Asasi Manusia” yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama atas kepemilikan bisnis maupun atas hak kepemilikan tanah.


Demikian acara seru selama 1 (satu) hari kemarin dalam memperingati International Women’s day (IWD), semoga kalian, para perempuan dimana saja bisa merayakan hari perempuan dengan kegiatan positif lainnya atau hanya dengan mensyukuri atas ciptaan Tuhan terlahir sebagai perempuan yang bisa bermanfaat untuk sekitar.